Sabtu, 25 Juni 2016

Kakek dan Suara Tawa Kesukaannya #KATAUNJ6

Ia tertawa, terdengar merdu dan menimbulkan sedikit getaran di dada. Sebuah tawa yang tak terlalu keras namun berefek magis bagiku yang terpaku padanya. Entitasnya menyita pandangku, merenggut semua fokus ku sehingga tertuju hanya padanya. Mari ku perkenalkan pada kalian semua, Freyja namanya. Gadis belia dengan tawa penuh pesona.
Sejak pertama bertemu dengannya, sekilas tak kudapati keistimewaan pada dirinya. Ia terlihat biasa, jika bukan karna namanya yang sedikit tak biasa, aku mungkin akan segera melupakannya. Namun penilaianku segera berubah saat ia tertawa. Jenis tawa yang membuatmu ikut merasa bahagia. Hanya dengan sebuah tawa maka kau akan tahu, bahwa ia secantik namanya.
Mungkin terdengar menggelikan, atau bahkan klise jika aku mulai menyukai gadis itu karna tawanya. Namun aku disini akan menuliskan,betapa aku menyukai tawa seorang Freyja Anida. Kisah ini akan sedikit membosankan, penuh dengan kata kata bernada hiperbolis yang aku sebenarnya cukup malu untuk menuliskannya. Kisah pendek ini kutuliskan untuknya, untuk tawanya yang kuharap bisa terus terdengar oleh dunia. Meski tak dapat ku mendengarnya.
Hari itu, aku masih bisa dengan jelas mendengar tawanya. Yang tanpa ku terka sama sekali menjadi hari terakhir dimana aku dapat dengan bebas mendengarnya. Pagi hari berlalu seperti biasa, dengan sedikit keributan tentang perebutan sarapan oleh kedua saudaraku, serta tambahan ocehan ibuku. Ya pagi hari yang biasa. Lalu siangnya aku masih dapat dengan jelas mendengar tawanya ketika ia dan teman temannya bercanda di kafetaria sekolah.
Dan sore itu, sore dimana tragedi itu terjadi. Suara desingan peluru tiba-tiba terdengar dari luar kelas. Dan seperti seketika seisi sekolah pun dilanda kepanikan. Tidak terkecuali aku dan teman teman sekelasku. Semuanya berebutan untuk keluar kelas dan menyelamatkan diri masing-masing. Suara desingan peluru,teriakan,serta jeritan memenuhi indra pendengaranku. Betapa aku ingin mengganti semua suara menyeramkan itu dengan suara Freyja.
Semua berlalu dengan cepat. Yang kuingat hanyalah jeritan, teriakan para guru, sirine ambulans, dan wajah Freyja yang ketakutan. Lalu semuanya pun gelap. Dan aku berharap aku masih bisa keluar dari kegelapan itu. Berharap masih dapat mendengar suara tawa kesukaanku.
“Apa kau bisa mendengar ku?
Dan yang kudengar hanyalah dengungan menyebalkan. Freyja menatapku khawatir. Ku buka mulutku untuk bertanya sesuatu, bertanya dimana kami saat ini. Namun yang kembali kudengar hanyalah dengungan. Dan saat itu aku sadar. Tuhan mengambil kemampuanku untuk mendengar.
Kau seharusnya beristirahat.
Itu suara Freyja. Ya meski sedikit, kemampuan mendengarku tidak sepenuhnya hilang. Ya aku setidaknya bersyukur, aku masih bisa mendengar penggalan tawa dari seorang Freyja.

.............................

Ku tatap buku harian bersampul coklat usang yang ada di tanganku, lalu kembali menatap kakek yang sedang duduk di kursi goyangnya.Jadi, kakek jatuh cinta pada nenek karna suara tawa nenek?Tanyaku spontan. Ibu yang sedang mengatur meja makan untuk jamuan makan malam spontan menoleh, lalu mengangguk pelan. Ya, nenek bilang, kakek selalu suka pada suara nenek. Walaupun sudah tidak bisa mendengar dengan baik, kakek selalu memuji suara tawa nenek. Bahkan sampai sekarang. Jawab ibu sambil tersenyum simpul.
Aku mengangguk paham. Lalu kembali melanjutkan membaca buku harian kakek sewaktu muda dulu.  Buku harian yang hampir seluruhnya berisi tentang nenek dan suara tawanya yang sangat dirindukan oleh kakek.  

Nuraisyah Akbar

Usaha Jasa Pariwisata 2015

0 komentar:

Posting Komentar

Contact

Talk to us

Badan Penyelenggara Radio Siaran Educational Radio

Address:

Universitas Negeri JakartaGedung G Lantai 1 Ruang 1

Work Time:

Monday - Friday from 10am to 5pm

Phone:

0896-1006-1078