RADIONYA ANAK UNJ

Keep Inspiring, Kee Struggling, And Keep Being Low Profile.

Listening ERA FM UNJ Chat With DJ

ON AIR!

Morning Soul

Senin- Jumat. Jam 08.00 - 10.00 wib.

Read More

Kampus Kita

Senin- Jumat. Jam 10.00 - 12.00 wib.

Read More

Lunch Break

Senin- Jumat. Jam 12.00 - 14.30 wib.

Read More

Era Explore

Senin- Jumat. Jam 14.30 - 17.00 wib.

Read More

Request Kamu

Senin- Jumat. Jam 17.00 - 19.00 wib.

Read More

Chart

Latest Update Chart

Read More

Update

Senin, 15 Januari 2018

The Next General Manager BPRS ERAFM UNJ 2018

The Next General Manager BPRS ERAFM UNJ 2018

Pemilihan Umum (Pemilu) yang sedang berlangsung mulai dari tanggal 28 Desember - 12 Januari 2017 yang bertujuan untuk mencari calon General Manager (GM) BPRS ERAFM UNJ yang baru. Ada 4 kandidat calon GM periode 2018-2019 yang sudah mencalonkan dirinya, yaitu Elpram Ilmawan, Dzulhieda Yusrania, Arya Firmansyah, dan Guntur Aulia. Acara ini dipersiapkan dari pertengahan bulan Desember, panitia yang terlibat yaitu crew ERAFM angkatan 16. Acara ini diawali dengan membuka OPREC GM, pemilu calon GM yang baru dari tanggal 28 desember sampai dengan 12 Januari 2017. Pada tanggal 12 Januari pemilihan ditutup. Kegiatan dilanjutkan dengan penghitungan suara pada hari Senin, 15 Januari 2017 di Sekretariat ERAFM UNJ di Gedung G. Dalam penghitungan suara diperoleh suara unggul yaitu Guntur Aulia. Dengan demikian, Guntur Aulia merupakan calon terpilih BPRS ERAFM UNJ Periode 2018-2019.  Calon terpilih akan diresmikan pada Musyawarah Besar BPRS ERAFM UNJ Periode 2017-2018 pada tanggal 20-21 Januari 2017.




Lisa

Sabtu, 13 Januari 2018

Akreditasi UNJ Turun?

Akreditasi UNJ Turun?

Kabar yang cukup menghebohkan bagi para Civitas Akademika UNJ mengenai akreditasi UNJ yang turun menjadi B. Hal ini menjadi perbincangan hangat akhir-akhir ini. Diketahui sebelumnya akreditasi Universitas Negeri Jakarta adalah “A” yang ditetapkan oleh BAN-PT, berdasarkan Surat Keputusan 763/SK/BAN-PT/Akred/PT/VII/2015 yang berlaku hingga 10 Juli 2020. Seharusnya akreditasi A tersebut masih berlaku, namun pada kenyataannya, kampus kita tercinta telah diturunkan akreditasinya menjadi B. Hal ini pun menjadi perbincangan sekaligus pertanyaan besar bagaimana bisa surat keputusan yang harusnya berlaku sampai 2020 kini berbeda kenyataannya.

Sebenarnya ada sebuah standar penilaian untuk menentukan akreditasi suatu perguruan tinggi, adapun standar penilaian tersebut yaitu:
1.      Jumlah tenaga pengajar
2.      Kurikulum setiap program studi
3.      Koordinasi pelaksanaan pendidikan, termasuk fasilitasnya
4.      Kondisi Mahasiswa
5.     Kesiapan administrasi, kepegawaian, keuangan dan lain-lain.

       Kini para Civitas Akademika UNJ patut bersabar atas keputusan yang telah ditetapkan dan berharap semoga Universitas Negeri Jakarta dapat menjadi lebih baik lagi.




Rizal Subekti

Jumat, 12 Januari 2018

The Marvelous Broadcaster: The Adventure of A Fascinating Broadcaster

The Marvelous Broadcaster: The Adventure of A Fascinating Broadcaster

Masih seputar rangkaian ERA FESTIVAL 2018, Broadcasting Seminar Vol. III bertemakan 'The Marvelous Broadcaster: The Adventure of A Fascinating Broadcaster' telah berhasil diselenggarakan pada Rabu, 10 Januari 2018 di Aula Latief Hendraningrat, Kampus A, Universitas Negeri Jakarta. Acara ini diikuti oleh Civitas Akademika UNJ. Adapun fokus dari seminar ini adalah mengenai produser dan announcer. Pembicaranya yaitu Aga Gonzaga dan Shandy Lou yang merupakan ahli pada bidang nya masing-masing. Antusias para peserta dapat dilihat dari aktifnya peserta dalam bertanya seputar produser maupun announcer. Selain seminar, dalam acara ini pula diumumkan pemenang dari kegiatan Spontaneous Announcing Competition yang diselenggarakan satu hari sebelumnya. Acara ini diharapkan menjadi ajang branding dunia keradioan kampus kepada para Civitas Akademika UNJ.




Ucha

Tantangan Dalam Kegiatan Spontaneous Announcing Competition

Tantangan Dalam Kegiatan Spontaneous Announcing Competition

Pada Selasa, 9 Januari 2018 telah dilaksanakan kegiatan Spontaneous Announcing Competition yang diselenggarakan oleh BPRS ERAFM UNJ. Acara ini merupakan rangkaian dari ERA FESTIVAL 2018. Sasaran dari kegiatan ini adalah Civitas Akademika UNJ dan juga khalayak umum. Lomba ini diikuti oleh beberapa mahasiswa di UNJ dari berbagai latar belakang prodi yang berbeda. Banyak peserta yang baru pertama kali merasakan siaran dalam sebuah studio. Pada lomba ini, peserta diharuskan untuk melakukan siaran dengan tema yang telah disiapkan panitia. Peserta hanya memiliki waktu 3 menit untuk mencari informasi seputar tema. Setelah itu, peserta diberikan waktu selama 7 menit untuk melakukan siaran dengan tema yang telah diberikan. Tema yang baru diberikan saat akan tampil menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi peserta, mengingat waktu yang dimiliki cukup singkat. Hal ini menuntut pengetahuan dan kreatifitas dari masing-masing peserta. Pemenang dari lomba ini yaitu, untuk single DJ ada Rayhandika dan untuk Duo DJ ada Amelia dan Yusman. Diharapkan acara ini menjadi ajang untuk menarik minat Mahasiswa UNJ terhadap dunia keradioan khususnya radio kampus.




Andi Nurul

Kamis, 11 Januari 2018

Pentingnya Penanaman Nilai Kejujuran Untuk Mengurangi Kebiasaan Menyontek #KATAUNJ16

Pentingnya Penanaman Nilai Kejujuran Untuk Mengurangi Kebiasaan Menyontek #KATAUNJ16


Menyontek merupakan sesuatu yang dianggap sebagai tindakan tidak terpuji serta mengkhianati karakter, terutama kejujuran. Seperti apa yang diungkapkan Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Tim Pustaka Pheonix, 2009), menyontek berasal dari kata sontek yang berarti melanggar, menocoh, menggocoh yang artinya mengutip tulisan, dan lain sebagainya sebagaimana aslinya, menjiplak.

Kebiasaan menyontek hadir dikarenakan berbagai faktor. Ada faktor dari dalam maupun dari luar. Faktor dari dalam dapat disebabkan kurangnya kesadaran atas kejujuran, ketidakupayaan untuk berusaha lebih, serta kurangnya rasa percaya diri dan yakin terhadap hasil kerja pribadi. Faktor dari luar yakni lingkungan yang cenderung memiliki paradigma bahwa seseorang akan lebih dihargai ketika memliki nilai yang tinggi ketimbang proses itu sendiri. Kegiatan mencontek pun ditempuh dengan berbagai cara. Hetherington dan Feldman (Anderman dan Murdock, 2007) mengelompokkan empat bentuk perilaku menyontek, yaitu: Individualistic-opportunistic dapat diartikan sebagai perilaku dimana siswa mengganti suatu jawaban ketika ujian atau tes sedang berlangsung dengan menggunakan catatan ketika guru atau guru keluar dari kelas. Independent- planned dapat diidentifikasi sebagai menggunakan catatan ketika tes atau ujian berlangsung, atau membawa jawaban yang telah lengkap atau telah dipersiapkan dengan menulisnya terlebih dahulu sebelum ujian berlangsung. Socialactive yaitu perilaku menyontek dimana siswa mengkopi, melihat atau meminta jawaban dari orang lain. Social-passive adalah mengizinkan seseorang melihat atau mengkopi jawabannya.

Kebiasaan mencontek di kalangan pelajar Indonesia bahkan dianggap sebagai hal yang lumrah saja. Terlebih mendekati musim ujian sekolah ataupun Ujian Nasional. Kasus terbesar dalam pelaksanaan UN 2015 adalah bocornya naskah soal di internet. Dari hasil verifikasi kala itu, ada 30 buklet dari 11.730 total buklet soal UN yang telah diunggah secara ilegal. Kejadian tersebut lantas membuat Kementerian Pendidikan dan kebudayaan (Kemdikbud) bertindak, yakni dengan berkoordinasi dengan Menkominfo untuk memblokir tautan Google yang berisi naskah soal UN itu. Koordinasi via telefon juga dilakukan dengan Google Inc dalam upaya pemblokiran. Hal tersebut mengakibatkan kunci jawaban diobral sana sini seolah menjadi peluang bisnis yang menjajikan. Padahal apabila ditelaah lagi secara logis, penjual kunci jawaban pun tidak ketahui identitas serta kapabiltasnya dalam membuat kunji jawaban. Mirisnya, pelajar atau pembeli kunci jawaban itu sendiri tidak memusingkan hal semacam itu, asalkan kunci jawaban didapat dan selamat.

Selain maraknya jual beli kunci jawaban, termyata pelaku kecurangan pun datang dari pihak sekolah itu sendiri, terutama guru. Menurut data dari Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), terdapat tujuh jenis kecurangan yang terjadi di UN tahun ini. Data kecurangan tersebut berdasarkan laporan atas pelaksanaan UN di Lampung, Pontianak, Medan, Jakarta, Surabaya, dan Cikampek. Laporan yang masuk diperoleh dari pengaduan masyarakat di pos pemantauan UN. Kecurangan tersebut diantaranya yaitu ada laporan kecurangan sistemik di Lampung. Atas perintah kepala sekolah, guru memasuki ruangan dan membantu siswa mengerjakan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK). Realitas yang demikian mirisnya seolah mencambuk pemikiran bahwa nilai-nilai korupsi sudah tertanam sejak dini di kalangan masyarakat Indonesia, terutama pelajar yang kelak menjadi penerus di masa yang akan datang. Kenyataan tersebut kembali mencabik wajah pendidikan Indonesia yang gagal mengedepankan nilai kejujuran dalam setiap lini kehidupan.

Dalam sebuah acara seminar di Universits Tadulako, Ketua KPK Abraham Samad menyatakan “Menyontek saat ujian, berarti tidak jujur, dan ini adalah cikal bakal dari kejahatan korupsi. Serta merupakan intellectual corruption atau korupsi intelektual,” tegas Dr. Abraham Samad. (Dikutip dari bcbrita.com). Karenanya, menyontek merupakan permasalahan yang harus diatasi dimulai dari mencabut akar-akar ketidakjujuran itu sendiri. Penanaman karakter kembali terutama penanaman nilai kejujuran di lingkungan sekolah maupun sosial sangat dibutuhkan sedari dini agar pelajar memiliki prinsip dan kesadaran akan hal tersebut. Karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya dan adat istiadat. Saat ini, pendidikan karakter juga berarti melakukan usaha sungguh-sungguh, sistematik, dan berkelanjutan untuk membangkitkan dan menguatkan kesadaran serta keyakinan semua orang Indonesia bahwa tidak aka nada masa depan yang lebih baik tanpa membangun dan menguatkan karakter rakyat Indonesia. Dengan kata lain, tidak ada masa depan yang lebih baik yang bisa diwujudkan tanpa kejujuran, serta tanpa rasa percaya diri. Pendidikan karakter didasarkan pada enam nilai-nilai etis bahwa setiap orang dapat menyetujui nilai-nilai yang tidak mengandung politis, religious, atau bias budaya. Salah satunya adalah Trustworthiness (Kejujuran) yang merupakan pilar paling utama, yakni jujur, jangan menipu, menjiplak atau mencuri, jadilah handal melakukan apa yang dikatakan akan dilakukan, melakukan hal yang benar, bangun reputasi yang baik, patuh, berdiri dengan keluarga , teman, dan negara. (Sistem Pendidikan Nasional). Thomas Lickona dalam bukui terkenalnya, “Educating for Character” (1991) menyimpulkan, pendidikan karakter adalah usaha sengaja untuk menolong peserta didik agar memahami, peduli akan, dan bertindak atas dasar inti nilai-nilai etis. Dalam hal ini, guru dan orang tua memainkan peran yang sangat vital. Guru sebagai pendidik memiliki tugas yang berat dalam upaya mengatasi kebiasaan mencontek di kalangan pelajar. Salah satu upaya yang bisa dilakukan oleh guru ialah memberikan motivasi pada siswa yang mencontek pada saat ujian agar siswa dapat bersikap jujur dalam menghadapi ujian dan menanamkan rasa percaya diri pada setiap siswa.

Penanaman nilai kejujuran bukan hanya tanggung jawab pemangku pendidikan di sekolah semata. Lebih dari itu, orang tua dan lingkungan yang merupakan stakeholder juga turut menyumbang pendididikan karakter, dimana karakter adalah sesuatu yang melekat dan terbentuk sedari dini mungkin. Oleh karena itu, penanaman nilai kejujuran kepada anak sedini mungkin merupakan hal yang penting dilakukan demi mengurangi kebiasaan menyontek di Indonesia. Seperti halnya sebuah ungkapan bahwa “Anak-anak berjumlah hanya sekitar 25% dari total populasi, tapi menentukan 100% dari masa depan.”


Purwo Besari

Manajemen Pendidikan 2015

Potret Diri Potret Bangsa #KATAUNJ15

Potret Diri Potret Bangsa #KATAUNJ15

"Bangsa yang berkarakter adalah bangsa yang kelak mampu bertahan dalam  berputarnya masa"

Karakter adalah pembawaan diri sejak seseorang dilahirkan ke dunia, kaitannya dengan etika, moral, sikap, perilaku hingga hal tersebut membuat seorang yang satu berbeda dengan seorang yang lainnya. Karakter yang tertanam dalam diri seseorang kelak yang akan membawa diri dalam kehidupan bermasyarakat. Kelak akan menjadi cerminan dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Karenanya, karakter tak hanya bicara soal ciri atau jati diri. Melainkan perilaku pada setiap individu. Karakter tidak serta merta terbentuk begitu saja. Pembentukan karakter dimulai sejak seseorang berada pada usia dini dimana tahap prepatory stage dimulai. Dimana usia anak dibawah sepuluh tahun pun sudah dapat belajar meniru apa yang ada di sekitarnya kendati belum memahami sesungguhnya apa yang ia tirukan. Apa yang seorang anak peroleh sejak kecil, itulah yang akan tertanam hingga kelak ia dewasa. Tak heran bahwa mendidik anak berkarakter sedari dini merupakan investasi besar di masa depan.

Karakter selalu bertaut dengan apa yang kita sebut pendidikan. Ya, karena lewat pendidikan itulah karakter ditransformasikan. Pendidikan karakter berbicara bagaimana mendidik siswa menjadi manusia yang berkarakter yakni manusia pancasila sesuai dengan ideologi bangsa kita, Indonesia. Tentu ini merupakan cita -cita luhur bangsa dimana kita menginginkan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang berkarakter dan maju. Cita-cita hanyalah asa. Bagai pungguk rindu akan rembulan. Cita-cita itu rasanya masih enggan atau terlampau jauh untuk kita gapai. Manusia pancasila seolah menjadi jargon semata. Buka mata dan kita bisa lihat fakta berbicara. Karakter bangsa seolah hilang dalam diri setiap rakyat Indonesia. Indonesia memang kaya akan manusia yang pintar atau bahkan jenius. Namun, Indonesia miskin manusia intelek yang berkarakter. Politikus yang pandai berorasi namun tak memiliki rasa kemanusiaan terhadap sesama yang kelaparan. Pemerintah yang tanpa dosa memakan jerih payah uang rakyat demi menenggak kekuasaan. Guru yang mengaku sarjana berkualitas seakan mengajar tanpa hati. Generasi muda yang rajin menyontek, bolos, atau bahkan terlibat narkoba. Sungguh memilukan. Namun, beginilah potret pendidikan karakter bangsa masa kini.

Dari hulu hingga hilir. Semua terlihat carut marut. Pendidikan karakter dianggap sesuatu yang tak lebih penting dari pendidikan kognitif yang hanya mementingkan kecerdasan otak tanpa menaruh perhatian pada kecerdasan emosional. Tak ayal jika pendidikan Indonesia hanya memproduksi manusia robot. Padahal yang perlu kita tahu adalah kecerdasan emosional berpengaruh 80% terhadap kesuksesan seseorang. Kecerdasan emosional ini berkaitan dengan karakter dalam diri seseorang. Bagaimana ia mampu beretika dengan sopan dan santun, jujur, disiplin, bertanggung jawab, peduli, dan lainnya. Nilai nilai yang ada dalam pendidikan karakter harus diintegrasikan dalam diri setiap siswa. Tak hanya sekolah yang harus mendidik siswa. Namun, yang paling utama adalah penerapan pendidikan karakter dalam keluarga. Dimana keluarga merupakan lingkungan pertama sang anak memperoleh pendidikan. Para stakeholder dari unit terkecil yakni keluarga hingga unit terbesar yakni negara harus mampu bekerja sama dalam membangun pendidikan karakter. Semua pihak harus memiliki kesadaran bahwa pendidikan karakter harus dimulai sedari dini, bukan hanya saat sang anak menginjak bangku sekolah. Sehingga, ketika nilai sudah tertanam kuat, sekolah sebagai tahap lanjutan  untuk sang anak mengembangkan diri dan mengaplikasikan karakter baik yang ada dalam diri.

Kita harus mengingat bahwa generasi muda ialah mereka yang kelak membawa masa depan Indonesia. Dalam genggaman merekalah Indonesia akan mampu meraih kejayaan atau justru semakin terpuruk. Di atas pundak mereka, Indonesia mampu menjadi bangsa yang madani atau negeri yang selalu dirundung korupsi. Ilmu tanpa budi bagai kapal tanpa nahkoda. Bagaikan berjalan dengan mata tertutup. Takkan mengerti mana yang baik dan mana yang buruk. Begitu pun berbudi tanpa ilmu hanya akan menjadi manusia yang dijajah oleh masa. Akalnya akan searasa sempit.  Karenanya, kedua hal harus seimbang agar menjadi manusia cerdas nan berkarakter. Negara yang maju berasal dari masyarakatnya yang berkarakter dan cerdas. Masyarakat demikian berasal dari individu-individu yang berkualitas. Cerminan diri adalah cerminan bangsa. Miniatur tiap keluarga merupakan refleksi miniatur negara. Mulai pada diri sendiri, keluarga dan lingkungan. Tak ada kata terlambat untuk berbenah. Sekarang, untuk Indonesia yang lebih baik!


Tita Desyara

Pendidikan Bahasa Inggris 2015

Tahun Baru, Resolusi Baru #KATAUNJ14

Tahun Baru, Resolusi Baru #KATAUNJ14

        Selamat tahun baru, Edufriend! Gak kerasa yah sudah 365 halaman terisi cerita-cerita keseharian yang sudah kita lalui. Hayoo Edufriend lagi bernostalgia apa aja yang udah terjadi di tahun 2017 ini ya? Mulai dari cerita-cerita bahagia, sedih, susah, senang, tawa, ria mulai membayangi pikiran. Tapi, pernah terpikir gak sih apa aja yang sudah kita lakukan selama satu tahun? Mimpi dan harapan apa yang sudah diraih?

Nah, momen tahun baru ini bukan cuma perayaan nya aja meriah tapi merupakan waktu yang paling tepat loh untuk memberikan evaluasi diri selama satu tahun yang terjadi. Memang pentingnya apa ya? Melalui evaluasi diri ini, Edufriend bisa tau hal apa aja yang udah dilakuin dan apa aja yang masih harus dicapai di tahun berikutnya. Jadi, setiap tahunnya selalu ada tantangan yang harus dilakukan, biar hidupnya gak gitu gitu aja ya kan? Hehe. Selain itu, evaluasi ini penting untuk membuat resolusi untuk tahun kedepannya, karena ketika Edufriend menentukan resolusi di tahun baru ini, secara gak langsung, Edufriend memotivasi diri sendiri untuk bisa mencapainya.

Trus gimana ya cara menentukan resolusi? Sebenernya hal paling utama yaitu menententukan prioritas. Misalnya, apa sih hal utama yang mau Edufriend raih di tahun ini, bisa travelling bareng temen ke tempat wisata atau mungkin lulus kuliah, itu tergantung keinginan dan kebutuhan utama Edufriend. Selama prioritas sudah ditentukan, tinggal bagaimana cara Edufriend untuk menggapai mimpi tersebut. Resolusi ini juga membantu Edufriend untuk belajar bertanggungjawab terhadap apa yang sudah direncanakan. Jadi, apa nih resolusi Edufriend di tahun ini?



Neneng Halimatusadiah
Pendidikan Bahasa Inggris 2015

Ajaibnya Kotaku, Indahnya Kotaku Bojonegoro Matoh #KATAUNJ13

Ajaibnya Kotaku, Indahnya Kotaku Bojonegoro Matoh #KATAUNJ13

Ketika kita mendengar keajaiban, kita pasti berpikir sesuatu yang magic, langka, luar biasa, dan lain sebagainya. Adakah di dunia ini keajaiban? Dunia ini penuh dengan keajaiban ya keajaiban dari yang Maha Kuasa, jika di hubungkan dengan pariwisata dan pariwisata tidak lepas dari destinasi wisata. Adakah keajaiban dunia yang dijadikan destinasi wisata? Wah, pastinya ada, yang kita kenal sebagian besar keajaiban dunia seperti Menara Eifel di Paris, Tembok Besar di China, Taj Mahal di India, Candi Borobudur di Yogyakarta, Indonesia.

Indonesia? Jika berbicara tentang Indonesia, Indonesia sangatlah beragam dari mulai bahasa daerah, suku, seni, dan budaya tersebar dari Sabang sampai Merauke, begitu juga dengan destinasi wisatanya, banyak sekali yang terkenal diantaranya Bali, Lombok, Manado, Papua, Aceh, dan lain sebagainya. Indonesia memiliki keajaiban dunia yang sudah di kenal di dunia ya namanya juga keajaiban dunia yaitu Candi Borobudur, tapi sebenarnya banyak sekali kalau mau di Eksplore salah satunya adalah Api Abadi ? Wah dimana itu ? Neraka ? Seram sekali, amit-amit ya. Api Abadi yang satu ini beda dari yang lainnya api abadi ini berada di Kayangan Api. Kayangan api adalah destinasi wisata yang terletak di sendangharjo, ngasem, dander, bojonegoro, Jawa Timur. Kayangan api adalah salah satu keajaiban dunia yang belum tereksplore, kayangan api memiliki sumber api abadi yang tak kunjung padam yang terletak di kawasan hutan lindung. Api ini tidak pernah padam walaupun turun hujan sekalipun. Biaya untuk memasuki khayangan api hanya Rp. 7500 dan Rp.1.000 untuk asuransi jiwa. Sungguh terjangkau ya harga tiket masuknya apalagi juga terdapat asuransi jiwanya.  

            Kayangan Api adalah tempat bersemayamnya Mbah Kriyo Kusumo atau Empu Supa atau lebih dikenal dengan sebutan Mbah Pandhe berasal dari Kerajaan Majapahit. Di sebelah barat sumber api terdapat kubangan lumpur yang berbau belerang dan menurut kepercayaan saat itu Mbah Kriyo Kusumo masih beraktivitas sebagai pembuat alat-alat pertanian dan pusaka seperti keris, tombak, cundrik dan lain-lain. Sumber Api, oleh masyarakat sekitarnya masih ada yang menganggap keramat dan menurut cerita, api tersebut hanya boleh diambil jika ada upacara penting seperti yang telah dilakukan pada masa lalu, seperti upacara Jumenengan Ngarsodalem Hamengkubuwana X dan untuk mengambil api melalui suatu prasyarat yakni selamatan/wilujengan dan tayuban dengan menggunakan fending eling-eling, wani-wani dan gunungsari yang merupakan gending kesukaan Mbah Kriyo Kusumo. Oleh sebab itu ketika gending tersebut dialunkan dan ditarikan oleh waranggono tidak boleh ditemani oleh siapapun.

Dan pada hari-hari tertentu terutama pada hari Jum'at Pahing banyak orang berdatangan di lokasi tersebut untuk maksud tertentu seperti agar usahanya lancar, dapat jodoh, mendapat kedudukan dan bahkan ada yang ingin mendapat pusaka. Acara tradisional masyarakat yang dilaksanakan adalah Nyadranan (bersih desa) sebagai perwujudan terima kasih kepada Yang Maha Kuasa. Pengembangan wisata alam Kayangan Api diarahkan pada peningkatan prasarana dan sarana transportasi, telekomunikasi dan akomodasi yang memadai.

Tidak hanya itu di kayangan api juga ada “pohon cinta”. Pohon cinta merupakan dua pohon besar yang bergabung jadi satu membentuk semacam gerbang. Konon ini adalah gerbang ke kayangan. Wah Ajaib sekali kan? Katanya sih, pasangan yang melewati "gerbang" Pohon Cinta ini, akan langgeng alias cinta pasangan akan abadi. Disekitar Pohon Cinta ini, juga disediakan tempat duduk yang sudah dibangun. Jadi kita bisa berfoto ria disana dengan pemandangan pohon-pohon yang sangat asri.

Selain terdapat sumber api abadi dan pohon cinta, disekitar lokasi juga terdapat semburan air bercampur lumpur yang mengandung belerang. Sumber mata air ini kelihatan panas jika dilihat tapi dingin jika disentuh, sehingga yang biasa disebut masyarakat sebagai air blukuthuk, karena menyerupai air mendidih. Dan konon, “air blukuthuk” di percaya masyarakat sekitar maupun pengunjung dapat menyembuhkan segala penyakit seperti sakit gigi dan gatal – gatal, dan dianggap dapat membawa keberuntungan bagi mereka yang datang memintanya.


Anugerah Dwi Fitriani
Usaha Jasa Pariwisata 2015


Tetap Eksis Walaupun Media Nya Sudah Hampir Ditinggalkan #KATAUNJ12

Tetap Eksis Walaupun Media Nya Sudah Hampir Ditinggalkan #KATAUNJ12

Badan Penyelenggara Radio Siaran  ERA FM UNJ adalah sebuah radio komunitas yang berada di bawah naungan Univesitas Negri Jakarta. Berbasis radio kampus. Dapat dilihat dari namanya saja  EraFM yang berasal dari educational radio, berarti radio pendidikan. Keseharian mereka menyiarkan sebuah meda informasi, komunikasi, dan pendidikan yang objektif, mendidik, menghibur, dan ikut serta mencerdaskan masyarakat UNJ.  Nah, di situ juga kita bisa dapet informasi tentang event-event musik dan acara acara anak muda lain nya.
Walau  media radio ini sudah jarang yang menggunakan dan hampir di tinggalkan itu tidak melunturkan semangat para Crew EraFM untuk melakukan kegiatan siaran . Radio komunitas ini juga sangat gencar melakukan pendekatan terhadap Edufriend sebutan pendengar mereka melalu media sosial.
Siapa bilang radio itu akan mati? Buktinya masih banyak yang kehilangan radio ketika radio dimatiin sama Presiden RI kemarin tuh. So, #RadioGueGaMati juga menjadi bagian dari Era FM yang bisa dibanggakan karena masih banyak yang menantikan Era FM terus mengudara pada frekuensinya. Tetap eksis di tengah pesaing-pesaing visual yang semakin menunjukan taringnya, radio akan terus menjadi pilihan no.1 di hati masyarakat Indonesia.


Dian Atilla Saputra

Fio 2015

Senin, 01 Januari 2018

Namun, Apakah Kita Siap? #KATAUNJ11

Namun, Apakah Kita Siap? #KATAUNJ11

72 Tahun sudah Indonesia merdeka. Namun, apakah kita merasakan apa arti ‘kemerdekaan’ itu?. Sejarah mencatat Indonesia melepaskan kekangan dari penjajahan dengan memerdekakan diri sendiri saat itu. Namun kini, apakah kita masih merasakan kemandirian dari perjuangan tak kenal belah kasih itu?. 89 tahun yang lalu para pendahulu kita bersumpah bahwa Bangsa Indonesia satu. Namun sekarang, apakah kita masih terasa ‘satu’?

Sungguh miris ketika kita menengok kebelakang melihat perjuangan para pahlawan Bangsa yang berkorban apapun demi Bangsa, namun apakah kita sadar saat ini kita malah berkorban demi apapun meskipun Bangsa yang dikorbankan. Terlalu ironis ketika tanah yang diperjuangkan secara bersama-sama untuk kemaslahatan Bangsa, namun kini tanah yang diperjuangkan ternyata ‘masih’ bukan milik kita. Menyedihkan memang ketika semangat yang dahulu digunakan sebagai bahan bakar pemersatu Bangsa, namun sekarang semangat itu digunakan untuk memecah belah Bangsa.
           
Apakah kita masih bisa tertawa ketika kita menyadari bahwa saat ini setiap tawa kita menzalimi setiap tetes darah pendahulu kita?. Masih bisa ternyenyak meski sadar sudah mendustakan sumpah para pendiri Bangsa?. Menyia-nyiakan setiap nyawa yang dikorbankan demi hari ini?. Apakah masih mau berusaha menutup mata meski realita pedih ada didepan kita?. Menutup telinga meski jeritan kenyataan menggelora disekitar kita?. Menutup hidung meski bau-bau kebusukan penoda kesatuan Bangsa hadir didepan batang hidung kita?. Apakah kita mau tetap diam saja dengan kondisi seperti itu? Apakah kita sudah tidak punya hati untuk tergerak? Apakah hati juga kita ‘gadaikan’ seperti Bangsa saat ini?

Ada dua pilihan saat ini. Hanya diam dan menerima ‘seperti’ orang bodoh atau memilih melawan karena tahu kita bodoh. Atau malah menjadi orang bodoh dengan menambah satu pilihan lain yaitu masa bodoh saja pura pura jadi orang bodoh. Namun, apakah kita siap untuk itu? Memilih antara diam, melawan atau menetapkan diri menjadi simbol kebodohan itu.  Selalu ada pilihan-pilihan lainnya, selalu ada alasan dan alibi yang bisa dipilih untuk menyangkalnya. Namun, apakah kita siap untuk apa yang kita pilih?. Pilihlah, untuk dirimu? atau untuk Bangsamu?


Iqbal Syafputra
Pendidikan Teknik Elektro

2015

Lawan Privatisasi Pendidikan #KATAUNJ10

Lawan Privatisasi Pendidikan #KATAUNJ10

Permasalahan kampus yang beberapa bulan kebelakang menjadi perbincangan Civitas Akademika UNJ bahkan sudah sampai telinga para pembuat regulasi dinegara. Sampai Mahasiswa , dosen dan karyawan berkumpul dalam satu naungan Aliansi FMI meneriakan yang dirasakan, satu tujuan besar yaitu perbaikan kampus pendidikan, jika ditarik lebih jauh sebelum hiruk pikuk lapor melaporkan, fitnah menghoax hoax-kan dan makar-makaran. Kampus ini sudah lebih Makar terhadap semangat pendidikan, dengan cara merubah institusi pendidikan menjadi industrisasi pendidikan lewat peraturan BLU (Badan Layanan Umum) yang membuka pintu lebar akan privatisasi,swastanisasi dan komersiliasi pendidikan , jadi tak usah heran jika dikampus ini biaya kuliah mahal karena harus menyesuaikan keinginan pasar, kampus plat merah tapi rasa swasta yang Kata-nya sudah dapat predikat akreditasi A dari BAN-PT dan ingin merubah menjadi World Class University.

Entah BAN-PT memberi nilai A pada apa. Coba wisata lah kesini. AC, dingin kagak panas iya,  hanya menjadi hiasan dinding, perpustakaan yang tidak dikelola secara professional,, toilet yang untuk menemukannya cukup dengan hidung karena baunya yang ganas, itupun jumlahnya tak sebanding dengan kelamin yang mengantri, pelataran kampus yang lebih mirip empang ketika musim penghujan dan menjadi padang tandus berdebu ketika kemarau, parkiran malah lebih mirip kandang domba, kalo hujan tampak lah pemandangan air terjun Niagara. Apalagi persoalan ibadah, musollah dan masjid harus ada kloter-kloteran mulai dari ngantri wudlu, sampai jadi musafir pencari air, sekretariat lembaga kemahasiswaan yang lebih tepat disebut gudang atau kantor pos, pembangunan gedung perkuliahan dan laboratorium yang terbengkalai) tapi yang lebih luar bi(n)asa dari itu karena banyak dari fasilitas tersebut yang dikomersilkan, termasuk kepada warga kampusnya sendiri, Cek saja Aula-aula,ruangan, panggung prestasi dan bahkan pelatarannya juga berbayar bahkan ada tarif yang ditetapkan tertulis.

Jadi perlulah para kawan aktivis membahas sistem apa yang digunakan dikampus ini, BLU, apa itu BLU? Dampaknya apa dan seperti apa cara kerja BLU?
BLU adalah instansi di lingkungan pemerintah yang dibentuk untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat berupa penyediaan barang dan/atau jasa yang dijual tanpa mengutamakan mencari keuntungan dan dalam melakukan kegiatannya didasarkan pada prinsip efisiensi dan produktivitas.

Dalam tata kelola atau aplikasinya, walau telah jelas diatur PP 23 thn 2015 bahwa BLU tak mengutamakan keuntungan, namun praktek nya sangat mengedepankan ke Otonoman kampus, atau masih semi-Otonom, yang mana kampus bisa memenejemen penganggarannya. Ini yang dapat membuka jalan bagi liberalisasi pendidikan dan praktek-praktek culas atau pun transaksional, yang nanti pasti efek langsung nya terhadap pembebanan ekonomi pada masyarakat dengan mahal nya perkuliahan. Berbagai persoalan yang sering dihadapi dunia pendidikan, mulai dari tingginya biaya kuliah, ada nya pungutan liar, KKN (Korupsi,Kolusi dan nepotisme), tidak profesionalnya tenaga pengajar, carut marutnya tata kelola kampus dan miris nya sarana dan prasaranan yang ada, masih banyak lagi, haruslah di catat baik-baik. Ini semua efek dari sebuah regulasi yang dijalankan, contoh kecilnya UKT naik, tak bisa kita tebak hanya karena kenaikan kebutuhan biaya oprasional kuliah saja. KKN yang terjadi juga tak bisa dianggap hanya karena kurangnya moralitas yang melakukannya, namun dikarenakan sistem BLU itu sendiri yang membuka ruang-ruang transaksional belbagai kepentingan politik dan membuka lebar pintu untuk mengkomersilkan aset Negara (red:PTN).

Sistem BLU mempersempit ruang Negara bertanggung jawab atas tugasnya” mencerdaskan kehidupan bangsa dan setiap warga Negara wajib mendapatkan pendidikan serta nagara wajib membiayainya”. UUD 1945 Pasal 31 (1 dan 2). Sangat miris melihat keadaan pendidikan tak jauh beda dengan barang dagang, Kompetisi dikedepankan, Peserta didik hanya oobjek untuk diperas. PTN yang harus nya menjadi pendidikan rakyat tapi berubah hanya untuk golongan-golongan tertentu “milik privat”. Memperpanjang jargon Orang Miskin Dilarang Sekolah/kuliah. Dan ini semua terjadi semua ditengah-tengan kampus ibukota. Doa and do the best. Keep fighting for the better Indonesia!


Danu Rizky Fadilla
Pendidikan Teknik Elektro
2015


Our Blog

Our Team

HRD
DEPARTMENT
BROADCAST
DEPARTMENT
PUBLIC RELATIONS
DEPARTMENT
LOGITECH
DEPARTMENT

Contact

Talk to us

Badan Penyelenggara Radio Siaran Educational Radio

Address:

Universitas Negeri JakartaGedung G Lantai 1 Ruang 1

Work Time:

Monday - Friday from 10am to 5pm

Phone:

0896-1006-1078