RADIONYA ANAK UNJ

Keep Inspiring, Kee Struggling, And Keep Being Low Profile.

Listening ERA FM UNJ Chat With DJ

ON AIR!

Morning Soul

Senin- Jumat. Jam 08.00 - 10.00 wib.

Read More

Kampus Kita

Senin- Jumat. Jam 10.00 - 12.00 wib.

Read More

Lunch Break

Senin- Jumat. Jam 12.00 - 14.30 wib.

Read More

Era Explore

Senin- Jumat. Jam 14.30 - 17.00 wib.

Read More

Request Kamu

Senin- Jumat. Jam 17.00 - 19.00 wib.

Read More

Chart

Latest Update Chart

Read More

Update

Senin, 15 Januari 2018

The Next General Manager BPRS ERAFM UNJ 2018

Pemilihan Umum (Pemilu) yang sedang berlangsung mulai dari tanggal 28 Desember - 12 Januari 2017 yang bertujuan untuk mencari calon General Manager (GM) BPRS ERAFM UNJ yang baru. Ada 4 kandidat calon GM periode 2018-2019 yang sudah mencalonkan dirinya, yaitu Elpram Ilmawan, Dzulhieda Yusrania, Arya Firmansyah, dan Guntur Aulia. Acara ini dipersiapkan dari pertengahan bulan Desember, panitia yang terlibat yaitu crew ERAFM angkatan 16. Acara ini diawali dengan membuka OPREC GM, pemilu calon GM yang baru dari tanggal 28 desember sampai dengan 12 Januari 2017. Pada tanggal 12 Januari pemilihan ditutup. Kegiatan dilanjutkan dengan penghitungan suara pada hari Senin, 15 Januari 2017 di Sekretariat ERAFM UNJ di Gedung G. Dalam penghitungan suara diperoleh suara unggul yaitu Guntur Aulia. Dengan demikian, Guntur Aulia merupakan calon terpilih BPRS ERAFM UNJ Periode 2018-2019.  Calon terpilih akan diresmikan pada Musyawarah Besar BPRS ERAFM UNJ Periode 2017-2018 pada tanggal 20-21 Januari 2017.




Lisa

Sabtu, 13 Januari 2018

Akreditasi UNJ Turun?

Kabar yang cukup menghebohkan bagi para Civitas Akademika UNJ mengenai akreditasi UNJ yang turun menjadi B. Hal ini menjadi perbincangan hangat akhir-akhir ini. Diketahui sebelumnya akreditasi Universitas Negeri Jakarta adalah “A” yang ditetapkan oleh BAN-PT, berdasarkan Surat Keputusan 763/SK/BAN-PT/Akred/PT/VII/2015 yang berlaku hingga 10 Juli 2020. Seharusnya akreditasi A tersebut masih berlaku, namun pada kenyataannya, kampus kita tercinta telah diturunkan akreditasinya menjadi B. Hal ini pun menjadi perbincangan sekaligus pertanyaan besar bagaimana bisa surat keputusan yang harusnya berlaku sampai 2020 kini berbeda kenyataannya.

Sebenarnya ada sebuah standar penilaian untuk menentukan akreditasi suatu perguruan tinggi, adapun standar penilaian tersebut yaitu:
1.      Jumlah tenaga pengajar
2.      Kurikulum setiap program studi
3.      Koordinasi pelaksanaan pendidikan, termasuk fasilitasnya
4.      Kondisi Mahasiswa
5.     Kesiapan administrasi, kepegawaian, keuangan dan lain-lain.

       Kini para Civitas Akademika UNJ patut bersabar atas keputusan yang telah ditetapkan dan berharap semoga Universitas Negeri Jakarta dapat menjadi lebih baik lagi.




Rizal Subekti

Jumat, 12 Januari 2018

The Marvelous Broadcaster: The Adventure of A Fascinating Broadcaster

Masih seputar rangkaian ERA FESTIVAL 2018, Broadcasting Seminar Vol. III bertemakan 'The Marvelous Broadcaster: The Adventure of A Fascinating Broadcaster' telah berhasil diselenggarakan pada Rabu, 10 Januari 2018 di Aula Latief Hendraningrat, Kampus A, Universitas Negeri Jakarta. Acara ini diikuti oleh Civitas Akademika UNJ. Adapun fokus dari seminar ini adalah mengenai produser dan announcer. Pembicaranya yaitu Aga Gonzaga dan Shandy Lou yang merupakan ahli pada bidang nya masing-masing. Antusias para peserta dapat dilihat dari aktifnya peserta dalam bertanya seputar produser maupun announcer. Selain seminar, dalam acara ini pula diumumkan pemenang dari kegiatan Spontaneous Announcing Competition yang diselenggarakan satu hari sebelumnya. Acara ini diharapkan menjadi ajang branding dunia keradioan kampus kepada para Civitas Akademika UNJ.




Ucha

Tantangan Dalam Kegiatan Spontaneous Announcing Competition

Pada Selasa, 9 Januari 2018 telah dilaksanakan kegiatan Spontaneous Announcing Competition yang diselenggarakan oleh BPRS ERAFM UNJ. Acara ini merupakan rangkaian dari ERA FESTIVAL 2018. Sasaran dari kegiatan ini adalah Civitas Akademika UNJ dan juga khalayak umum. Lomba ini diikuti oleh beberapa mahasiswa di UNJ dari berbagai latar belakang prodi yang berbeda. Banyak peserta yang baru pertama kali merasakan siaran dalam sebuah studio. Pada lomba ini, peserta diharuskan untuk melakukan siaran dengan tema yang telah disiapkan panitia. Peserta hanya memiliki waktu 3 menit untuk mencari informasi seputar tema. Setelah itu, peserta diberikan waktu selama 7 menit untuk melakukan siaran dengan tema yang telah diberikan. Tema yang baru diberikan saat akan tampil menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi peserta, mengingat waktu yang dimiliki cukup singkat. Hal ini menuntut pengetahuan dan kreatifitas dari masing-masing peserta. Pemenang dari lomba ini yaitu, untuk single DJ ada Rayhandika dan untuk Duo DJ ada Amelia dan Yusman. Diharapkan acara ini menjadi ajang untuk menarik minat Mahasiswa UNJ terhadap dunia keradioan khususnya radio kampus.




Andi Nurul

Kamis, 11 Januari 2018

Pentingnya Penanaman Nilai Kejujuran Untuk Mengurangi Kebiasaan Menyontek #KATAUNJ16


Menyontek merupakan sesuatu yang dianggap sebagai tindakan tidak terpuji serta mengkhianati karakter, terutama kejujuran. Seperti apa yang diungkapkan Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Tim Pustaka Pheonix, 2009), menyontek berasal dari kata sontek yang berarti melanggar, menocoh, menggocoh yang artinya mengutip tulisan, dan lain sebagainya sebagaimana aslinya, menjiplak.

Kebiasaan menyontek hadir dikarenakan berbagai faktor. Ada faktor dari dalam maupun dari luar. Faktor dari dalam dapat disebabkan kurangnya kesadaran atas kejujuran, ketidakupayaan untuk berusaha lebih, serta kurangnya rasa percaya diri dan yakin terhadap hasil kerja pribadi. Faktor dari luar yakni lingkungan yang cenderung memiliki paradigma bahwa seseorang akan lebih dihargai ketika memliki nilai yang tinggi ketimbang proses itu sendiri. Kegiatan mencontek pun ditempuh dengan berbagai cara. Hetherington dan Feldman (Anderman dan Murdock, 2007) mengelompokkan empat bentuk perilaku menyontek, yaitu: Individualistic-opportunistic dapat diartikan sebagai perilaku dimana siswa mengganti suatu jawaban ketika ujian atau tes sedang berlangsung dengan menggunakan catatan ketika guru atau guru keluar dari kelas. Independent- planned dapat diidentifikasi sebagai menggunakan catatan ketika tes atau ujian berlangsung, atau membawa jawaban yang telah lengkap atau telah dipersiapkan dengan menulisnya terlebih dahulu sebelum ujian berlangsung. Socialactive yaitu perilaku menyontek dimana siswa mengkopi, melihat atau meminta jawaban dari orang lain. Social-passive adalah mengizinkan seseorang melihat atau mengkopi jawabannya.

Kebiasaan mencontek di kalangan pelajar Indonesia bahkan dianggap sebagai hal yang lumrah saja. Terlebih mendekati musim ujian sekolah ataupun Ujian Nasional. Kasus terbesar dalam pelaksanaan UN 2015 adalah bocornya naskah soal di internet. Dari hasil verifikasi kala itu, ada 30 buklet dari 11.730 total buklet soal UN yang telah diunggah secara ilegal. Kejadian tersebut lantas membuat Kementerian Pendidikan dan kebudayaan (Kemdikbud) bertindak, yakni dengan berkoordinasi dengan Menkominfo untuk memblokir tautan Google yang berisi naskah soal UN itu. Koordinasi via telefon juga dilakukan dengan Google Inc dalam upaya pemblokiran. Hal tersebut mengakibatkan kunci jawaban diobral sana sini seolah menjadi peluang bisnis yang menjajikan. Padahal apabila ditelaah lagi secara logis, penjual kunci jawaban pun tidak ketahui identitas serta kapabiltasnya dalam membuat kunji jawaban. Mirisnya, pelajar atau pembeli kunci jawaban itu sendiri tidak memusingkan hal semacam itu, asalkan kunci jawaban didapat dan selamat.

Selain maraknya jual beli kunci jawaban, termyata pelaku kecurangan pun datang dari pihak sekolah itu sendiri, terutama guru. Menurut data dari Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), terdapat tujuh jenis kecurangan yang terjadi di UN tahun ini. Data kecurangan tersebut berdasarkan laporan atas pelaksanaan UN di Lampung, Pontianak, Medan, Jakarta, Surabaya, dan Cikampek. Laporan yang masuk diperoleh dari pengaduan masyarakat di pos pemantauan UN. Kecurangan tersebut diantaranya yaitu ada laporan kecurangan sistemik di Lampung. Atas perintah kepala sekolah, guru memasuki ruangan dan membantu siswa mengerjakan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK). Realitas yang demikian mirisnya seolah mencambuk pemikiran bahwa nilai-nilai korupsi sudah tertanam sejak dini di kalangan masyarakat Indonesia, terutama pelajar yang kelak menjadi penerus di masa yang akan datang. Kenyataan tersebut kembali mencabik wajah pendidikan Indonesia yang gagal mengedepankan nilai kejujuran dalam setiap lini kehidupan.

Dalam sebuah acara seminar di Universits Tadulako, Ketua KPK Abraham Samad menyatakan “Menyontek saat ujian, berarti tidak jujur, dan ini adalah cikal bakal dari kejahatan korupsi. Serta merupakan intellectual corruption atau korupsi intelektual,” tegas Dr. Abraham Samad. (Dikutip dari bcbrita.com). Karenanya, menyontek merupakan permasalahan yang harus diatasi dimulai dari mencabut akar-akar ketidakjujuran itu sendiri. Penanaman karakter kembali terutama penanaman nilai kejujuran di lingkungan sekolah maupun sosial sangat dibutuhkan sedari dini agar pelajar memiliki prinsip dan kesadaran akan hal tersebut. Karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya dan adat istiadat. Saat ini, pendidikan karakter juga berarti melakukan usaha sungguh-sungguh, sistematik, dan berkelanjutan untuk membangkitkan dan menguatkan kesadaran serta keyakinan semua orang Indonesia bahwa tidak aka nada masa depan yang lebih baik tanpa membangun dan menguatkan karakter rakyat Indonesia. Dengan kata lain, tidak ada masa depan yang lebih baik yang bisa diwujudkan tanpa kejujuran, serta tanpa rasa percaya diri. Pendidikan karakter didasarkan pada enam nilai-nilai etis bahwa setiap orang dapat menyetujui nilai-nilai yang tidak mengandung politis, religious, atau bias budaya. Salah satunya adalah Trustworthiness (Kejujuran) yang merupakan pilar paling utama, yakni jujur, jangan menipu, menjiplak atau mencuri, jadilah handal melakukan apa yang dikatakan akan dilakukan, melakukan hal yang benar, bangun reputasi yang baik, patuh, berdiri dengan keluarga , teman, dan negara. (Sistem Pendidikan Nasional). Thomas Lickona dalam bukui terkenalnya, “Educating for Character” (1991) menyimpulkan, pendidikan karakter adalah usaha sengaja untuk menolong peserta didik agar memahami, peduli akan, dan bertindak atas dasar inti nilai-nilai etis. Dalam hal ini, guru dan orang tua memainkan peran yang sangat vital. Guru sebagai pendidik memiliki tugas yang berat dalam upaya mengatasi kebiasaan mencontek di kalangan pelajar. Salah satu upaya yang bisa dilakukan oleh guru ialah memberikan motivasi pada siswa yang mencontek pada saat ujian agar siswa dapat bersikap jujur dalam menghadapi ujian dan menanamkan rasa percaya diri pada setiap siswa.

Penanaman nilai kejujuran bukan hanya tanggung jawab pemangku pendidikan di sekolah semata. Lebih dari itu, orang tua dan lingkungan yang merupakan stakeholder juga turut menyumbang pendididikan karakter, dimana karakter adalah sesuatu yang melekat dan terbentuk sedari dini mungkin. Oleh karena itu, penanaman nilai kejujuran kepada anak sedini mungkin merupakan hal yang penting dilakukan demi mengurangi kebiasaan menyontek di Indonesia. Seperti halnya sebuah ungkapan bahwa “Anak-anak berjumlah hanya sekitar 25% dari total populasi, tapi menentukan 100% dari masa depan.”


Purwo Besari

Manajemen Pendidikan 2015

Our Blog

Our Team

HRD
DEPARTMENT
BROADCAST
DEPARTMENT
PUBLIC RELATIONS
DEPARTMENT
LOGITECH
DEPARTMENT

Contact

Talk to us

Badan Penyelenggara Radio Siaran Educational Radio

Address:

Universitas Negeri JakartaGedung G Lantai 1 Ruang 1

Work Time:

Monday - Friday from 10am to 5pm

Phone:

0896-1006-1078